Bakti Sosial dan Perayaan HARLAH PMII Komisariat Teknologi ke 20

Berbagi kasih dan keceriaan di Panti Asuhan Darul Azhar

Salam dari Puncak Semeru dan B29

Sahabat Bagus dan Sahabat Yusuf mengibarkan Bendera PMII di Ketinggian

Khotmil Qur'an

Bersama Sahabat Alumni (Sahabat Anam) dan Komisariat UMM

Upacara Hari Pendidikan Nasional

Pemberian Sertifikat Penghargaan Lolos Pendanaan DIKTI 2014

RTAR Rayon FTI II

Dengan Tema "Indahnya Bergerak Bersama Sahabat"

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2012

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Etika (4)

Kaum Nahdliyin juga mengenal kaidah dar’u al-mafasaid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (mencegah marabahaya lebih diutamakan dari pada meraih kebaikan). Maksudnya, masyarakat perlu memilih langkah menghindari bahaya daripada mengupayakan kebaikan yang berisiko tinggi. Prinsip ini mendorong masyarakat untuk bertindak cermat dan tepat sehingga aktifitasnya benar berdampak positif, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Kaidah lainnya yang penting adalah tasharruf al-imam manuthun bi maslahah al-ra’iyyah (kebijakan pemimpin harus mengacu kepada kebaikan rakyatnya. Maksudnya, seorang penguasa merupakan penjelmaan kepentingan rakyatnya. Ia bukanlah representasi atas dirinya sendiri, karena itu segala kebijakan yang diambil, harus mengacu kepada kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Etika (3)

Implementasi Nilai-nilai Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Adapun pertanyaan bagaimana mangaktualisasikan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan mengimplementasikannya di lapangan menjadi hal yang sangat signifikan untuk mencari jawabanya. Seperti yang kita ketahui bahwa koridor bagi pemahaman keagamaan di lingkungan NU adalah taqdim al-nash ‘ala al-‘aql (menadhulukan nash atas akal).

Itulah sebabnya mengapa dalam mengimplementasikan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah NU mengenal hierarki sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an, lalu al-Sunnah, kemudian ijma’ (kesepakatan jumhur ulama) dan qiyas (pengambilan hukum melalui metode analogi tertentu). Konteks hierarki maksudnya suatu hukum baru akan digunakan jika dalam sumber di atasnya tidak ditentukan ketetapannya.

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Etika (2)

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Etika (2) Oleh: Dr. Hj. Sri Mulyati, MA Pengertian Etika Secara kebahasaan perkataan etika berasal dari bahas Yunani ethos yang berarti watak, kesusilaan, atau adapt. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Pengertian: etika menurut istilah dapat dipaparkan sebagai berikut: Menurut Ahmad Amin, “etika adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.” Menurut Soegarda Poerbakawatja, “etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya bentuk perbuatan”. 

Minggu, 25 Maret 2012

Konsep Ahlussunnah Wal Jama’ah Tentang Etika

By:aswaja.com
Dalam kajian Islam pembahasan yang menyangkut akidah akan ada hubungannya dengan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah (disingkat dalam bahasa Indonesia aswaja), dan dapatlah dipastikan referensinya yaitu doktrinal kalam madzhab terutama al-Asy’ari dan al-Maturidi. Perkembangan istilah ini makin lama kelihatan makin resmi menjadi disiplin keilmuan Islam yang berkembang dan mencakup diskursus Islam lainnya yaitu bidang syari’ah atau fiqh dan bidang akhlak atau tasawuf. Inilah yang disebut dengan istilah “’urf khas” bagi aswaja, karena setiap lafadz mengandung makna hakekat dan majaz, keduanya adakalanya lughawi, syar’i dan atau ‘urfi, untuk ‘urfi adakalanya ‘aam dan adakalanya khosh.

Dalam perkembangan selanjutnya, terutama dalam konteks Nahdlatul Ulama, dalam hal ‘aqidah pengertiannya adalah madzhab Asy’ari atau Asy’ariyah dan Maturidiyah, dalam hal fiqh pengertiannya adalah empat madzhab besar Islam, yaitu maliki, Syafi’I, Hanafi, Hanbali. Dan dalam hal akhlak atau tasawuf pengertiannya ialah doktrinal tasawuf al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.

Sabtu, 24 Maret 2012

Mahasiswa Dan Masyarakat Majemuk Indonesia

By: jurnalendi.blogpsot.com
Mahasiswa merupakan fase transisi sebelum terjun ke dunia permasalahan masyarakat umum. Mahasiswa merupakan calon pengemban misi dan tugas yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Disinilah terlihat peran mahasiswa yang dikatakan sebagai iron stock, dikatakan sebagai besi (iron) karena suatu saat pula besi yang baru akan berkarat dan harus diganti dengan besi yang baru lagi. Pengembanan tugas antar generasi melibatkan suatu proses kaderisasi yang tidak dapat dilepaskan begitu saja.

Sebagai kaum yang memiliki derajat pendidikan lebih tinggi serta memiliki idealisme yang masih fresh tanpa kontaminasi faktor eksternal. Kaum mahasiswa diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik serta dapat memperbaiki kesalahan - kesalahan generasi sebelumnya. Peran ini dikatakan sebagai agent of changes, karena itu proses kaderisasi sangat esensial untuk memastikan bahwa generasi mahasiswa lebih baik dari generasi sebelumnya.


Rabu, 15 Februari 2012

ANALISA SOSIAL

Lebih dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan struktur sosial. Kita ketahui, bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat saling berinteraksi. Interaksi ini didasari dan terus diarahkan pada nilai-nilai kebersamaan, norma-norma yaitu standar tingkah laku yang mengatur ineraksi antar individu yang menunjukkan hak dan kewajiban tiap-tiap individu sebagai sarana penting agar tujuan bersama tercapai, dan akhirnya oleh sanksi, baik sanksi yang negatif dalam arti mendapat hukuman kalau melanggar norma maupun sangat positif yaitu mendapat penghargaan karena telah mentaati norma yang ada. Dasar dan arah umum interaksi inlah yang kita mengerti sebagai kultur.

Kecuali itu, interaksi antar individu juga diantur sesuai dengan tujuan-tujuan khusus interaksi itu. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keakraban diatur dalam institusi keluarga. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup diatur dalam institusi ekonomi. Interaksi orang dalam hubungannya dengan Illahi diatur dalam institusi agama. Sedangkan agar keseluruhan interaksi dalam masyarakat umumnya bisa bisa terjamin dan pasti diadakan institusi politik. 

Jumat, 01 Oktober 2010

Pengkaderan Tunas Muda NU Yang Mengkhawatirkan (Sebuah Usulan Untuk Muktamar NU)

Muktamar NU yang akan berlangsung Maret 2010 sudah mulai meramaikan media massa. Sayangnya wacana yang beredar hanya sekitar persoalan kandidat ketua umum PBNU. Jarang yang mengangkat wacana seputar pengkaderan tunas muda NU yang semakin mengkhawatirkan.
Seputar pengkaderan NU, pernah timbul polemik antara di website resmi NU Online antara Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan Ketua Umum PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) M. Rodli Kaelani. Ketika membuka Kongres IPNU-IPPNU yang tengah berlangsung di Pesantren Al Hikmah Brebes, KH Hasyim Muzadi mengeluhkan peranan PMII yang melupakan pengkaderan NU di sektor mahasiswa karena terlalu aktif berpolitik di luar kampus dan bahkan sebagian aktivis PMII terpengaruh paham liberalisme agama. Hasyim menyarankan agar IPNU-IPPNU juga turut memperhatikan pengkaderan mahasiswa tanpa melupakan pengkaderan pelajar dan santri.

Senin, 15 Februari 2010

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH DALAM PERGUMULAN PEMIKIRAN

I. Pengantar

Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.

Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi  sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan  (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said Aqil Siradj : 1998).

PERAN MAHASISWA

Diakui atau tidak sejarahlah yang membuktikan bahwa, perjalanan bangsa Indonesia ini yang disitu terdiri dari kaum muda dan mahasiswa. Mereka mempunyai andil yang besar dalam mengawal bangsa ini, dalam mengamati peran mahasiswa dalam mengawal masa depan bangsa terbukti sampai saat ini bangsa ini masih mempunyai beberapa kaum muda yang penuh keberanian, energik dan cerdas. Sejarah mengatakan bahwa setiap moment perubahan, kaum muda selalu mengambil posisi dibarisan terdepan, mereka radikal sekaligus yang kita rasakan dan kadang nekat.

Peran mahasiswa dalam mengawal bangsa ini kadang juga ditepis oleh beberapa pendapat “bahwa posisi mahasiswa tidaklah penting, sedangkan peranan mereka hanyalah sebagai alat atau  pembantu bagi kekuatam yang sesumgguhmya”1 Itu adalah hal yang wajar karena pemdapat itu terlontar pada tahun 1930–an dimana bangsa Indonesia masih dibawah penjajah. Namun, pada moment yang luar biasa, dimana disitu terjadi kemacetan bangsa secara utuh, disitu akan muncul pemuda dan mahasiswa laksana penjelmaan ratu adil, bagi yang memahami sejarah, kedatangan para mahasiswa memang sudah diharapkan dan bahkan ditunggu2.

Jumat, 15 Januari 2010

ARTI LAMBANG DAN BENDERA PMII

1. LAMBANG PMII

Pencipta lambang PMII : H. Said Budairi

Makna lambang PMII

1.1. Bentuk :

a. Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar.
b. Bintang adalah perlambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.
c. 5 (lima) bintang sebelah atas melambangkan Rasulullah dengan empat sahabat terkemuka (khulafaurrasyidin).
d. 4 (empat) bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhadluan Ahlussunah Wal Jama’ah.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com